Jakarta - Rupiah masih belum ada kabar baik. per penutupan Senin 18 Mei 2026, rupiah ditutup di Rp17.668 per dolar AS, rekor terlemah sepanjang sejarah.
Tren Pelemahan yang Terus Berlanjut
Mei 2026 jadi bulan yang berat buat rupiah. Bukan sekali jatuh, tapi berkali-kali. Tanggal 5 Mei di Rp17.425. Tanggal 12 Mei tembus Rp17.529. Lalu 15 Mei jeblok lagi ke Rp17.604. Setiap minggu rekor baru.
Penyebabnya? Analis Ibrahim Assuaibi dari PT Traze Andalan Futures bilang ada dua hal besar. Pertama, harga minyak dunia yang naik bikin inflasi merembet ke mana-mana dan pasar mulai berpikir The Fed bakal tahan suku bunga tinggi lebih lama dari yang diperkirakan. Kedua, situasi di Timur Tengah yang belum reda bikin investor makin gugup. Ujungnya, dolar AS jadi incaran dan rupiah yang kena getahnya.
Prabowo: "Orang Desa Enggak
Pakai Dolar"
Nah, ini yang bikin heboh. pada Sabtu
16 Mei 2026, Prabowo sedang mengadakan peresmian Museum Ibu Marsinah di Nganjuk, Jawa
Timur. Di tengah pidato, tiba-tiba nyebut soal rupiah.
"Saya yakin sekarang ada yang
selalu sebentar-sebentar 'Indonesia akan collapse, akan chaos'... Orang rakyat
di desa enggak pake dolar kok," kata Prabowo.
Ia juga bilang pangan dan energi masih aman. Indonesia tidak perlu ikut panik.
Lalu Benarkah Desa Tidak Terdampak?
Tidak semua setuju. Ekonom yang
dihubungi Tempo langsung membantah.
"Masyarakat desa memang tidak memakai dolar di pasar, warung, sawah, atau kandang ternak. Meski begitu, mereka tetap hidup dalam sistem harga nasional yang sangat dipengaruhi dolar," katanya, Ahad 17 Mei 2026.
Logikanya gini, kalau rupiah
melemah, harga impor naik. Pupuk, pakan ternak, obat-obatan, BBM, alat
pertanian. Semua itu harganya ikut terseret. Dan kenaikan itu tidak berhenti di
pelabuhan. Secara perlahan menyebar sampai ke kios tani dan dapur rumah tangga di
desa.
"Karena itu, desa tidak perlu membayar dengan dolar untuk merasakan dampak dolar," tegasnya.
Suara DPR dan Pemerintah
Tidak semua mengkritik Prabowo.
Anggota Komisi XI DPR Putri Anetta Komarudin minta publik baca pernyataannya secara menyeluruh bukan potongan. Menurutnya itu pesan tersirat buat BI untuk segera
bergerak.
Jubir Gerindra Bahtra Banong juga
membela. "Kalau didengar utuh, Presiden sedang mengajak rakyat untuk tidak
usah panik karena fundamental ekonomi Indonesia kuat," katanya, Senin 18
Mei 2026.
Menkeu Purbaya lebih terang-terangan.
"Untuk menghibur rakyat saja di situ. Saya lihat konteksnya di pedesaan
waktu kemarin itu, enggak apa-apa ngomong begitu," ucapnya di Kompleks
Istana, Senin 18 Mei 2026.
Suku Bunga BI Berpotensi Naik
Ada satu hal lagi yang perlu
diperhatikan. Ibrahim Assuaibi memperkirakan BI akan naikkan suku bunga acuan
25 - 50 basis poin, entah di pertemuan Mei ini atau Juni nanti. Tujuannya satu:
bikin rupiah tidak makin jatuh.
Tapi kalau itu terjadi, ada harga yang harus dibayar masyarakat. Cicilan KPR, KUR, pinjaman bank , semuanya berpotensi naik.
Komisi XI DPR sudah siapkan rapat
kerja khusus dengan BI untuk bahas ini lebih jauh.
Pertanyaannya sekarang: apakah langkah BI akan cukup menahan pelemahan, atau pernyataan "orang desa enggak pakai dolar" justru yang lebih diingat publik?